USK Conferences, Aceh Surgery Update 2

Font Size: 
dr. Yopie Afriandi Habibie, SpBTKV, FIHA : Peripheral Arterial Disease; What should we know?
dr. Yopie Afriandi Habibie , SpBTKV, FIHA

Date: 2017-09-16 10:30 AM – 11:00 AM
Last modified: 2017-10-04

Abstract


Peripheral arterial disease (PAD) merupakan penyakit vaskular perifer yang dapat mempengaruhi kualitas dan harapan hidup dengan meningkatkan kejadian kardiovaskular. PAD juga sering underdiagnosed, undertreated, dan kurang mendapat perhatian komunitas medis. Pasien dengan PAD sendiri sering mengalami gejala-gejala patognomonis seperti claudication intermitten, ischemic rest pain, luka/ulkus yang tidak sembuh. PAD sering terjadi pada pasien yang menderita faktor risiko aterosklerosis meliputi: ras, jenis kelamin, bertambahnya usia, merokok, diabetes mellitus, hipertensi, dislipidaemia, keadaan hiperkoagulitas dan hiperviskositas, hiperhomosisteinemia, kondisi inflamasi sistemik dan insufisiensi ginjal kronis.

Ankle brachial index (ABI) merupakan pemeriksaan fisik yang baik untuk screening dan diagnosis. Pemeriksaan dengan pencitraan (duplex ultrasound, computed tomography angiography, atau magnetic resonance angiography) juga bermanfaat dalam memberikan informasi tambahan struktur anatomis ketika tindakan revaskularisasi diperlukan. Tujuan tatalaksana PAD adalah untuk memperbaiki gejala klinis, mencegah kehilangan jaringan (amputasi), meningkatkan kualitas hidup, dan menurunkan angka kejadian kardiovaskular. Tatalaksana ini dimulai dengan modifikasi faktor risiko.

Tindakan revaskularisasi diperlukan ketika terapi medikamentosa berdasarkan algoritma tidak memberikan hasil yang adekuat. Tindakan revaskularisasi dengan endovaskular ataupun pembedahan bypass direkomendasikan pada PAD dengan penyakit pada aortoiliaca dan femoropopliteal. Selain itu, tindakan endovaskular dan pembedahan bypass juga diperlukan untuk mempertahankan fungsi tungkai, memperbaiki aliran darah ke kaki pada pasien dengan luka yang tidak sembuh atau gangrene

Full Text: PDF