USK Conferences, Aceh Surgery Update 2

Font Size: 
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LUARAN PENANGANAN ATRESIA ESOPHAGUS
Dian Adi Syahputra

Last modified: 2017-09-27

Abstract


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi luaran penanganan atresia esofagus. Penelitian ini adalah penelitian cross-sectional analitik. Data dari rekam medik seluruh penderita atresia esofagus yang dilakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan Rumah Sakit Santo Baromeus Bandung dari Januari 2002 – Agustus 2009. Variabel yang diambil meliputi usia saat datang, jenis kelamin, berat badan lahir (kurang atau lebih dari 1500 gr), ada atau tidaknya bronkopneumonia, kelainan jantung bawaan, kelainan congenital penyerta lainnya, tindakan yang dilakukan (gastrostomy atau definitive anastomosis esophagus), sepsis sebelum tindakan operasi (berdasarkan International pediatric sepsis consensus conference, tahun 2005), dan ruang perawatan sebelum operasi definitive, dan lama penggunaan ventilator. Uji Fisher's Exact Probability Test dan Kruskal Walis digunakan untuk menilai luaran masing – masing kelompok. Pada penelitian ini menggunakan tingkat kepercayaan 95%, bila nilai p ≤ 0,05, maka terdapat hubungan bermakna antara variabel dan luaran. Didapatkan 26 penderita, terdiri dari 13 penderita laki – laki dan 13 penderita perempuan. Rentang usia saat penderita datang ke rumah sakit yaitu 3 ± 1,41 hari. Berat rata  rata adalah 2.475 ± 35,35 gram. Terdapat 2 penderita dengan berat badan dibawah 1500 gram pada saat datang ke rumah sakit. Seluruh penderita didiagnosis sebagai atresia esofagus dengan fistula trakeoesofageal distal. Hanya 2 penderita yang langsung dilakukan anastomosis esofagus, sedangkan sisanya dilakukan gastrostomy dan esofagostomy (delayed anastomosis) terlebih dahulu. Terdapat 5 penderita dengan kelainan jantung bawan. Jumlah penderita yang hidup setelah tindakan anastomosis esophagus adalah 8 penderita (31,03 %). Dari hasil uji Fisher's Exact Probability Test didapatkan bahwa sepsis pra operasi yang nilai p < 0,05, sehingga berpengaruh terhadap luaran atresia esophagus. Berdasarkan prevalence rate, perawatan di ruangan intensif pra operasi dan kelainan jantung bawaan bermakna terhadap luaran. Dengan menggunakan uji Kruskal Wallis maka didapatkan rata – rata penggunaan ventilator pada kelompok yang hidup adalah 5 ± 2,83 hari, sedangkan pada kelompok meninggal adalah 24,5 ± 21,92 hari. Diperoleh nilai p = 0,022 sehingga terdapat hubungan bermakna antara lama penggunaan ventilator terhadap luaran.  Pada penelitian ini, sepsis pra operasi dan lama penggunaan ventilator berpengaruh secara statistik terhadap luaran atresia esophagus. Perawatan di ruang intensif dan kelainan jantung bawaan, secara klinis merupakan faktor yang berpengaruh terhadap luaran


Full Text: PDF