USK Conferences, Roundtable for Indonesian Entrepreneurship Educators 2018

Font Size: 
Kemitraan Strategis dalam Pengembangan SDM Industri Wisata Halal Berbasis Pengembangan Kurikulum Kepariwisataan di Provinsi Jawa Barat
Imas Soemaryani

Last modified: 2018-09-05

Abstract


Sektor pariwisata memberikan kontribusi ke empat terbesar terhadap  PDRB (pendapatan daearah regional bruto) Jawa Barat setelah minyak dan gas bumi, batubara dan minyak kelapa sawit.  Hal ini dibuktikan dengan data bahwa sejak tahun 2016 Provinsi Jawa Barat telah  menjadi provinsi dengan tingkat kunjungan wisatawan nusantara terbanyak sekitar 45 juta orang. Dari 45 juta ini satu juta orang diantaranya adalah wisatawan asing. Berarti baru sekitar 2,5 persen saja wisatawan asing yang berkunjung ke Jawa Barat. Meskipun tahun 2017 kunjungan wisatawan asing meningkat menjadi 1,99 juta orang, tapi jumlah ini masih dinilai rendah dibandingkan dengan peningkatan jumlah wisatawan local. Tahun 2010 pemerintah provinsi Jawa Barat memiliki target wisatawan asing sebesar 5 juta oang.

Masih rendahnya kunjungan wisatawan asing ke Provinsi Jawa Barat disinyalir karena pemerintah belum mampu mengotimalkan semua peluang yang ada, yang salah satunya adalah dengan memanfaatkan potensi yang terkait dengan syariat islam yang diyakini oleh 85 persen penduduk Indonesia. Salah satu yang belum teroptimalkan adalah memanfaatkan peluang yang muncul dari keberagamaan agama yang memiliki nilai nilai yang diinginkan oleh semua wisatawan baik asing maupun domestik.

Salah satu program wisata yang terkait dengan hal ini adalah wisata halal yang bukan saja ditujukan bagi kaum muslim di seluruh dunia tapi juga bagi wisatawan non muslim yang menginkan program wisata halal yang bersih, nyaman, aman, karena di dalam wisata halal tidak aka ada makanan, minuman, destinasi wisata atau hiburan yang menyalahi nilai nilai agama, seperti menjual makanan atau minuman beralkohol, memisahkan tempat berenang bagi perempuan dan laki laki, menyediakan sarana dan prasaran tempat ibadah yang nyaman, larangan membawa pasangan yang bukan muhrim dan lain lain.

Wisata halal ini memiliki peluang sangat tinggi untuk berkembang, oleh sebab itu pihak pemerintah sebagai unsur yang memiliki kebijakan melakukan integrasi kemitraan stragegis dengan unsur unsur lainnya seperti pelaku usaha, akademisi, media, dan masyarakat untuk bersama sama mengembangkan usaha wisata halal ini.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan focus group discussion, mulai dari pengumpulan data awal, pengumpulan data sekunder dan pendalaman serta verifikasi data lapangan, sedangkan metode analisis data yang dipergunakan adalah analisis  desktiptif sehingga mmapu memberikan gambaran secara rinci tentang pelaksanaan kemitraan strategis melalui penyusunan kurikulum yang mampu mendukung persiapan pengadaan dan pengembangan sunberdaya manusia di sektor wisata halal.

Seiring dengan semakin tingginya kesadaran manusia untuk hidup sehat, nyaman, tenang dan bersih sesuai dengan syariat islam, maka pengembangan wisata halal menjadi salah satu alternatif untuk mengoptimalkan PAD Provinsi Jawa Barat dari sektor pariwisata halal. Oleh karena itu dibutuhkan sinergi antara pemangku kepentingan kepariwisataan di Jawa Barat dengan melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas dan media massa.

Dari lima unsur yang saat ini dilibatkan dalam berbagai aktivitas termasuk pengembangan pariwisata adalah unsur akademisi, salah satu fungsi yang menjadi peran utama dari unsur akademisi adalah menyiapkan dan mengambangkan sumberdaya manusia yang terlibat di dalam manajemen pariwisata, mulai dari para pengambil kebijakan, pengelola fasilitas pariwisata (hotel, restoran, destinasi wisata, dll), pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang bergerak untuk mendukung pengembangan pariwisata di Jawa Barat.

Integrasi kemitraan antar pemerintah dan akademisi yang nyata adalah menyiapkan lembaga lembaga pendidikan yang mampu mendukung pada pengembangan pariwista, dan lembaga pendidikian itu sendiri mengaplikasikannya dengan menyusun berbagai kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian kurikulum yang dibangun adalah kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan aktivitas usaha kepariwisataan, dan yang mampu melihat serta mengambil peluang pasar baik dalam negeri maupun luar negeri

Keywords


Kemitraan Strategis; Pengembangan SDM; Industri Wisata Halal; Kurikulum Kepariwisataan